Pertemuan singkat itu amat berkesan dan membuat penulis yakin bahwa wisata bahari di Sulsel belum sepenuhnya dikenal masyarakat dunia. Yang membuat penulis sedikit merasa sedih karena Traveller itu lebih mengenal Wakatobi dan Bunaken sebagai lokasi penyelaman yang baik.
Tapi yang terkenal adalah Wakatobi dan Bunaken. Hal itu kemudian penulis refleksikan dengan hasil diskusi dengan Andi Januar Jaury Darwis, anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan yang juga pemerhati Kelautan. Dalam diskusi yang santai tersebut terungkap bahwa prospek wisata bahari Sulsel hanya berjalan di tempat. Ini berarti pariwisara bahari belum menjadi jualan utama wisata di Sulsel.
Padahal seharusnya pariwisata bahari menjadi pusat tujuan wisata. Soalnya di Sulsel terdapat beberapa destinasi wisata bahari yang bisa dikunjungi. Misalnya saja Taman Laut Takabonerate di Selayar, Taman Laut Kapoposang, Pulau-pulau kecil di Kepulauan Spermonde, Pulau Samalona, Pantai Bira dengan pasir putihnya dan lain sebagainya. Semua potensi wisata bahari tersebut dapat menjadi tujuan wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara untuk berlibur. Namun, sejauh ini kunjugan wisatawan untuk menikmati keindahan alam Sulsel tersebut masih minim.
Peluang memanfaatkan wisata bahari sangat terbuka lebar. Saat ini kecenderungan wisata dunia mulai bergeser ke natural tourism. Dalam hal ini masyarakat dunia lebih menyukai menghabiskan waktunya untuk menikmati wisata alam yang natural. Di Indonesia, perkembangan pariwisata bahari menunjukkan kemajuan yang pesat. Hal itu ditandai dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Indonesia.
Namun, destinasi wisata bahari di Sulsel selalu luput dari kunjungan wisatawan. Keadaan tersebut semakin membuktikan bahwa promosi pariwisata bahari Sulsel amat lemah. Kondisi itu sangat berbeda dengan konsep Pemerintah Daerah (Pemda) Sulawesi Utara dalam mempromosikan Keindahan Alam bawah laut Bunaken. Begitu juga dengan Pemda Wakatobi yang luar biasa berjuang memperkenalkan potensi wisata bahari yang mereka miliki.
Penulis bertemu dengan Bupati Wakatobi akhir Desember 2011 lalu. Pak Hugua memaparkan dengan antusias prosesnya memperkenalkan Wakatobi hingga dikenal di dunia saat ini. Hugua mempromosikan keunggulan wisata Wakatobi dengan kerja cerdas. Strategi yang Hugua pakai juga penuh perjuangan.
Seringkali ia ikut forum-forum nasional dan internasional lalu memperkenalkan keindahan alam Wakatobi. Setiap kali pada pameran daerah, Hugua sendiri ikut terlibat mengangkat dan membawa peralatan untuk pameran. Selain itu, Hugua mengunjungi kampus-kampus di Eropa. Memberi kuliah pada mahasiswa dan memperkenalkan Wakatobi sebagai Surga bawah laut dunia. Melihat kerja keras Hugua, penulis berpikir seharusnya kepala daerah di Sulsel juga melakukan hal yang sama. Memerjuangkan agar daerah yang potensi wisata kelautannya cukup menjanjikan bisa terkenal di dunia. Menjadikan Sulsel sebagai pusat destinasi wisata bahari bukan hal yang mudah. Butuh kerja keras dan kerja cerdas. Pasalnya wisatawan masih lebih mengenal Bali, Lombok, Bunaken, Wakatobi dan Raja Ampat dibanding objek wisata bahari di Sulsel. Menyiasati hal tersebut, penulis melihat peran pemerintah dan keberpihakan pada kemajuan wisata bahari menjadi tumpuan utama. Tanpa keberpihakan pemerintah, penulis pikir konsep apapun yang ditawarkan untuk memajukan wisata bahari sulit untuk berkembang. Berkaca pada kemajuan Wakatobi yang daerahnya cukup jauh dari ibu kota. Malah menjadi pusat destinasi dan terkenal di dunia. Itu terjadi karena keberpihakan, konsistensi pemerintah daerah membangun wisata bahari. Keberpihakan juga nantinya akan berpengaruh pada politik anggaran. Jika selama ini anggaran untuk pengembangan sektor ini masih minim. Maka ke depannya perlu dilakukan penambahan anggaran. Wisata bahari bisa juga dikembangkan dengan menambah varian-varian wisata. Selain menikmati wisata alamnya, di pulau yang dikunjungi terdapat wisata kuliner yang bisa dinikmati oleh para wisatawan. Ini kombinasi wisata bahari dan wisata kuliner.
Pemerintah mesti mengajak pihak swasta untuk ikut serta mengembangkan wisata bahari Sulsel. Hal ini membuat pemerintah bisa bekerja secara bersama swasta memperkenalkan pariwisata bahari pada berbagai pameran yang bersifat nasional maupun internasional. Pihak travel agency juga perlu dilibatkan.
Penulis berfikir perlu ada rekayasa informasi terkait pariwisata bahari di Sulsel. Namun, rekayasa tersebut tidak mengaburkan fakta yang ada. Melainkan mengonsep informasi menjadi lebih menarik sehingga setiap penikmat travelling makin rasa penasaran terhadap wisata bahari di Sulsel. Informasi tersebut dipromosikan secara rutin di media massa. Misalnya di televisi, radio, surat kabar dan online. Selain itu, bisa juga disiasati dengan mengundang para jurnalis dan perwakilan media untuk mengunjungi lokasi destinasi wisata.
Penulis menyarankan agar setiap kunjungan Gubernur ke berbagai negara mestinya membawa pesan yang bisa ditinggalkan di negara yang dikunjugi. Tidak hanya jalan-jalan menghabiskan anggaran. Melainkan perjalanan berkualitas. Misalnya pada setiap kunjungan ke berbagai negara tetangga. Gubernur menyempatkan diri mempromosikan wisata bahari Sulsel dengan segala keindahan bawah lautnya.
Memanfaatkan social media. Cara ini cukup efektif. Perkembangan media sosial yang begitu cepat mesti perlu dijadikan sebagai alat untuk promosi wisata bahari Sulsel. Media Facebook, Twitter,Youtube bisa menjadi garda terdepan. Tentu perlu sumber daya untuk mengelola itu dengan baik. Selain itu, website yang berisi informasi wisata perlu dikembangkan. Bahkan lebih baik jika informasi biaya paket wisata, perjalanan, tiket, hotel, rumah makan terdekat dan segala yang terkati dengan lokasi wisata yang dituju sudah lengkap pada website.
Tiap tahun di Sulsel perlu diadakan event terkait dengan Bahari. Misalnya saja Sail Takabonerate, Ekspedisi Kepulauan Spermonde, Festval Losari, Festival Pulau-Pulau Kecil. Mengundang perwakilan duta besar yang ada di Indonesia, para jurnalis, termasuk jurnalis luar negeri yang memiliki kantor di Indonesia. Serta melibatkan fotografer dan masyarakat umum untuk berlomba mengabadikan gambar terbaik pada setiap festival. Tak hanya itu para pembuat film dokumenter diajak ikut berpartisipasi. Mereka berlomba membuat film yang berhubungan dengan prospek wisata bahari. Hasilnya akan dipublikasikan di youtube dan dinilai masyarakat umum. Di akhir festival pemenangnya diberi hadiah dan penghargaan.
Penulis pikir, meski terlambat sadar akan potensi wisata bahari yang dimiliki. Namun momentum untuk mengubah arah destinasi wisatawan ke Sulsel masih terbuka lebar. Saatnya wisatawan menikmati surga bawah laut wisata bahari Sulsel. Read More......

Indonesia memiliki banyak daerah wisata yang unik dan menarik buat para wisatawan. Misalnya di Bali, Yokyakarta, Lombok dan Jakarta. Namun berbeda dengan Toraja. Salah satu tujuan wisata di wilayah Sulawesi Selatan yang masih memelihara budaya, adat-istiadat para leluhur terdahulu. Masyarakat Toraja memegang teguh prinsip adat tersebut sehigga tak lekang oleh waktu. Kekuatan budaya dan adat-istiadat itulah yang membuat Toraja berbeda dengan daerah lainnya. Selain menawarkan adat-istiadat yang beraneka ragam dan unik. Di daerah berpenduduk 1 juta jiwa tersebut, para penikmat wisata bisa menyaksikan hamparan pegunungan yang masih asri, tegalan sawah dan lembah dengan pohon pinus yang membuat mata tak pernah bosan memandang. Salah satu keunggulan Toraja yakni ketaatan masyarakat dalam menjalankan perintah leluhurnya. Pun hingga saat ini, hal itu membuat Toraja terkenal ke penjuru dunia. Masyarakat Toraja masih melestarikan upacara Rambu Solo. Rambu Solo merupakan upacara kematian yang dilakukan pada keluarga yang meninggal beberapa tahun sebelumnya. Setiap ada yang meninggal, maka kewajiban saudara yang masih hidup menggelar pesta yang besar. Pesta ini menjadi bukti penghormatan pada keluarga yang pergi.
Pesta Rambu Solo dilakukan sebagai bentuk penghormatan pada setiap saudara yang sudah meninggal. Penghormatan itu dianggap sebagai persembahan yang terakhir sebelum bertemu dengan Tuhan. Masyarakat Toraja percaya bahwa kematian akan sempurna jika prosesi itu dilakukan. Tradisi Rambu Solo termasuk proses penyempurnaan kematian. Karena sebelum dilakukan, orang yang meninggal akan dianggap sakit atau lemah. Sehingga, jasadnya selama pesta belum dilakukan akan dibaringkan di Tongkonan ( rumah adat Toraja). Kewajiban keluarga yang masih hidup yakni membuat pesta pemakaman. Prosesi itu menghabiskan dana yang tak sedikit. Semakin tinggi tingkat sosial dan derajat kebangsawanan, maka pesta yang dilakukan juga semakin meriah. Biasanya pesta diadakan tujuh hari lamanya. Hal ini dikenal dengan Dipapitung Bongi. Hewan yang dipersembahkan juga jumlahnya cukup banyak. Jumlah kerbau 25 – 150 ekor, babi 50 – 350 ekor. Kerbau yang dikurbankan juga bukan kerbau biasa. Melainkan kerbau pilihan khas Toraja (Tedong Bonga) dengan harga yang lumayan besar. Satu ekor kerbau bisa seharga Rp 300 - 350 Juta. Makanya Rambu Solo yang besar menghabiskan anggaran milyaran rupiah. Rambu Solo yang lengkap disebut sapu randanan sarrinna bone bone (pesta terlengkap) karena semua jenis kerbau (Tedong Bonga) yang dipersembahkan lengkap. Kemeriahan Rambu Solo bisa kita temukan di Toraja atau Toraja Utara. Setiap akhir tahun (Desember) rangkaian prosesi upacara kematian yang megah biasa digelar di daerah yang jaraknya 350 km dari Makassar tersebut. Kemeriahan terlihat saat puncak acara Rambu Solo. Secara umum prosesi Rambu Solo dimulai dengan Ma paroko paladan. Yaitu meurunkan jenazah dari rumah ke teras Tongkonan. Selanjutnya semua jenis kerbau yang akan dipersembahkan akan diberi nama oleh tujuh tokoh adat. Setelah itu Ma pasa tedong. Kerbau pilihan akan diadu satu sama lain di sebuah lapangan luas. Ribuan masyarakat berkumpul di lapangan menanti adu kerbau tersebut. Setelah mengadu kerbau pilihan, prosesi yang menarik bagi masyarakat toraja yakni Ma pasisemba. Tradisi baku tendang antara penduduk kampung dianggap sebagai tanda persahabatan. Masyarakat akan berkumpul di lapangan, berhadap-hadapan dan melakukan aksi “kungfu” secara bersama. Seorang tokoh adat berdiri di tengah lapangan menjadi pemandu tanda si semba di mulai. Pada hari pemakaman jenazah dipindahkan dari teras ke depan rumah, lalu kemudian jenazah diarak keliling kota Toraja sebelum diantar ke tempat peristirahatan terakhir. Dalam proses ini ribuan masyarakat akan mengiringi jenazah. Sambil membentangkan kain berwarna merah yang cukup pajang.
Setelah prosesi pemakaman usai, keluarga menerima tamu undangan, kerabat dan para pejabat yang berkunjung ke rumah duka. Proses menerima tamu ini dilakukan bersamaan dengan mengurbankan Tedong Bonga. Caranya pun sangaat unik yakni hanya dengan melakukan satu kali tebasan pada leher kerbau itu. Daging kerbau tersebut kemudian dibagi-bagikan pada warga dan dijadikan santapa selama menerima tamu. Proses itu pun berakhir setelah pesta menerima tamu undangan usai. Rambu Solo membuat kematian menjadi sempurna sebab dalam kepercayaan masyarakat Toraja, Dewata akan menerima segala pengorbanan anak cucu yang masih hidup .
Kuburan batu Londa
Mayat yang telah disimpan bertahun-tahun itu tak dimakamkan seperti masyarakat pada umumnya. Di Toraja, masyarakat memiliki lokasi pemakaman yang unik, dikenal dengan nama Londa. Londa itu merupakan kuburan yang terbuat dari batu. Mayat yang sudah meninggal hanya disimpan dalam peti lalu diletakkan di dalam gua batu tersebut.
Dulunya Londa merupakan lokasi pemakaman satu keluarga. Namun akhirnya dibuka karena minat masyarakat untuk melihat kawasan itu amat besar. di Londa terdapat banyak tengkorak kepala manusia yang berumur ratusan tahun. Selain itu juga terdapat banyak tulang-tulang yang berserakan. Untuk menunjukkan jumlah orangy ang sudah meninggal dibuat tau-tau. Tau-tau merupakan pertanda banyaknya masyarakat Toraja yang telah dikubur di lokasi tersebut. Selain Londa juga terdapat kawasan penguburan batu Lemo.

Tepat 9 November 2011 lalu, Makassar berulang tahun yang ke 404. Umur yang tak muda lagi bagi perkembangan kota. Bersamaan dengan ulang tahun tersebut, Makassar yang sudah dikenal sebagai kawasan perdagangan sejak abad XVI telah dicanangkan menjadi Kota Dunia. Kota yang kelak menjadi pusat peradaban di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Tentu tak mustahil mewujudkan mimpi tersebut. Namun, Pemerintah Kota Makassar perlu bekerja keras, bahu membahu dengan masyarakat mewujudkan impian tersebut.
Pada setiap pertemuan, Waikota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin selalu menekankan perlunya perubahan prilaku masyarakat. Perubahan prilaku tersebut amat mendukung Makassar menuju Kota Dunia. Kota Dunia sebenarnya kota yang identik dengan lingkungan yang berkualitas, pelayanan publik yang baik, prilaku masyarakat yang taat aturan, transparansi pemerintahan dan birokrasi yang bebas dari korupsi. Kota yang memiliki sistem transportasi yang memadai, baik laut, udara dan darat serta memiliki gerak ekonomi yang terus tumbuh dengan memberdayakan ekonomi masyarakat. Selain itu kota yang mampu menghadapi perubahan iklim dunia yang terjadi terus menerus.
Pencapaian Kota Dunia memang menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh elemen warga yang tinggal di Makassar. Sesuai dengan visi Makassar menuju Kota Dunia, saat ini pemerintah terus melakukan pembenahan. Penataan kota dengan pembangunan fisik untuk kepentingan publik. Selain itu yang paling urgent yakni pembangunan kesadaran. Dalam hal ini prilaku masyarakat. Misalnya saja kesadarakan akan kebersihan, contohnya tidak membuang sampah pada sembarang tempat.
Persoalan kebersihan kota, Pemkot telah melakukan program Makassar Green and Clean. Upaya tersebut membuat warga kota turut berperan dalam menjaga kebersihan hingga lorong tersempit sekali pun. Seiring dengan harapan warga, Pemkot melakukan pembenahan fasilitas pendukung, perbaikan Infrastruktur, dan penataan kota menjadi lebih baik. Paling tidak sistem kebersihan yang harus dibenahi, tak boleh berhenti. “ Pasalnya kota tak ada yang mengunjungi jika tak menjamin kebersihan kota,” ungkap Walikota Makassar beberapa waktu lalu.
Perbaikan sistem transportasi juga dilakukan. Penataan tersebut menghindari kemacetan yang terus menerus meningkat. Kenyamanan saat berada di jalan raya kelak akan membuat Makassar makin dilirik. Untuk itu pemerintah menyiapakan dua program dalam menata sistem transportasi tersebut. Pertama, menyediakan sistem trasportasi massal. Transportasi ini akan mengganti transportasi kecil (pete-pete). Upaya tersebut dilakukan agar volume kendaraan pada ruas jalan raya bisa lebih sedikit. Meski menggunakan transportasi massal. Sistem ini tak mengorbankan pete-pete. Nantinya peran pete-pete tersebut akan menjadi angkutan feeder dalam satu kawasan yang berfungsi mengangkut warga menuju angkutan massal. Sehingga peran angkutan kecil tersebut tetap ada.
Sebenarnya pembangunan angkutan massal sudah dimulai sejak 2009 lalu. Yakni dengan melakukan pelebaran jalan. Target pertama yakni menghubungkan Terminal Daya dengan Pettarani. Sesuai rencana, awal 2012 nanti, sistem trasportasi massal tersebut akan diberlakukan secara perlahan. Soalnya sistem ini akan mendukung prospek usaha angkutan di Makassar dengan pengguna 500 – 600 ribu orang perhari. Kedua, pembangunan monorel, penataan ini bersifat jangka panjang. Pemerintah bersama pengembang lokal (Kalla Group) telah menandatangani kerjasama tersebut.
Di usia yang ke 404 ini, Makassar mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pertumbuhan ekonomi di Triwulan kedua mencapai 8,62 persen. Pertumbuhan itu cukup meningkat dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya berkisar pada 6 persen. Ilham mengakui momentum ulang tahun Makassar difokuskan untuk memberikan sesuatu pada masyarakat kota. Pada 2011, Makassar menjadi pusat destinasi untuk beberapa kegiatan. Sehingga tingkat hunian hotel trendnya terus mengalami peningkatan. Bahkan pada Ramadhan lalu hunian hotel di Makassar mencapai 70 persen. Ini menandakan Makassar menjadi tujuan dari berbagai kegiatan bisnis, ekonomi, eksebisi, meeting dan beberapa pertemuan nasional yang digelar di kota ini.
Peningkatan jumlah tersebut membuat Walikota merekomendasikan pembangunan lima hotel. Hotel berkelas bintang dua sampai bintang lima tersebut diharapkan bisa menampung pengunjung kota Makassar. Geliat tersebut menandakan investor memang melirik Makassar sebagai daerah tujuan investasi yang memberikan prospek peluang bisnis yang cukup baik. Olehnya itu fokus pengembangan ekonomi Makassar tak mengacu pada pengelolaan sumber daya alam. Pasalnya di Makassar tak ada sumber daya alam. Melainkan mengandalkan bisnis dan jasa yang ada. Meski demikian Makassar sudah menjadi pusat pelayaan jada dan distibusi barang untuk Kawasan Timur indonesia. Secara perlahan, semakin banyak industri yang menjadikan Makassar living home kedua. Untuk menjadikan Makassar sebagai the second home, pemerintah berupaya menyediakan segala kebutuhan masyarakat tersedia di Makassar. Sehingga masyarakat KTI tidak lagi menyeberang ke pulau Jawa untuk mencari kebutuhannya, melainkan ke Makassar. Makanya pemerintah terus meyakinkan investor masuk ke Makassar. Caranya yakni dengan memberikan kemudahan, regulasi, keringan dan mengoptimalan segala kebutuhan yang ada.
Dengan masuknya investro, maka implikasi kehidupan masyarakat lebih baik, tercipta lapangan kerja baru, angka pengagguran berkurang. Tentunya semua gejolak bisnis pasti akan memberikan impilakasi positif bagi kehidupan masyarakat di kota Makassar. Kondisi Makassar dalam lima tahun kedepan bisa makin kondusif. Hal itu terjadi jika tak ada gejolak sosial dan politik yang memberikan dampak sosial. Kehidupan masyarakat dengan berbagai fasilitas sarana pendukungnya bisa lebih baik. Data badan Pusat Statistik mencatat bahwa pndapatan per kapita masyarakat mencapai Rp 27, 9 juta pertahun. Dalam kurun waktu 2006-2010 pendapatan masyarakat mengalami perbaikan.
Meski kehidupan masyarakat mulai membaik, pemerintah juga mendorong agar investor melakukan pengembangan pada daerah yang berbatasan dengan Makassar. Misalnya daerha Maros, Pangkep, Gowa dan Takalar. Dalam artian pengembangna industri dan manufaktur tidak selamanya di Makassar. Tapi memberdayakan daerah lain sehingga masyarakat tak menumpuk di Makassar. Sesuai target, Makassar ketika menjadi Kota Dunia pada 2025, penduduknya tak bisa lebih dari 2 juta jiwa. Wilayah
Makassar sejak awal didesain sebagai the second home. Sebagai pusat destinasi sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah lain. Di sisi lain, Kota Dunia yang didambakan terus berkembang dengan pembangunan fisik dan membangun kesadaran warga.
Ismawan As

Makassar dalam beberapa hari ini dikunjungi oleh banyak tokoh yang memiliki kontribusi tergadap pembangunan di negeri ini. Mereka berasal dari Sabang sampai Merauke. Yang menarik adalah bukan hanya tokoh yang sudah lanjut usia, melainkan anak-anak muda yang punya dedikasi, inovatif dan kaya raya.
Mereka adalah para pengusaha yang berada di bawah bendera Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Rata-rata mereka berusia 20-40 tahun. Gambaran anak muda yang cukup ideal. Yang paling membuat heboh yakni para calon ketua umum HIPMI tersebut.
Keempat calon itu kemarin diulas di koran Fajar Makassar. Sungguh bombasti Fajar menulis tentang mereka. Judulnya saja, " Muda, Kaya Raya, dan Berinovasi. Secara ekonomi inilah para anak muda yang ideal.
Nah mari kita tuggu gebrakan selanjutnya. siapakah pengganti Erwin Aksa yang ketua Hipmi saat ini. Dan ternyata, setelah pertarungan yang cukup sengit. Raja Sapta OKtohari ter[ilih sebagai ketua Hipmi menggantikan Erwin Aksa.

Gabungan organisasi sosial kemasyarakatan (ormas) islam mendatangi Kantor DPRD Sulawesi Selatan (SulSel), Selasa, (01/03).Mereka menuntut agar Ahmadiyah yang ada di Sulsel dibubarkan. Hal tersebut diambil karena di beberapa daerah seperti Sumtera Barat, Banten dan Jawa Tmur, Ahmadiyah sudah dibubarkan dan dilarang melakukan aktivitas.
Berangkat dari beberapa daerah yang telah melarang Ahmadiyah beraktivitas, gabungan ormas yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) itu meminta DPRD Sulsel mengeluarkan peraturan daerah pembubaran Ahmadiyah.
Sekretaris Jenderal FUI Sulsel HM Siradjuddin, yang menjadi orator mengatakan bahwa kelompok Ahmadiyah termasuk aliran sesat yang sudah dilarang beraktivitas oleh MUI sejak 1980. Kemudian ditegaskan kembali 2005. Juga 1974 Lembaga Muslim Dunia mengeluarkan fatwa tenang kesesatan Ahmadiyah.
Siradjuddin juga mendesak presiden Sby segera mengelarkan keputusan tentang pembubaran Ahmadiyah.” Dengan jalan ini, persoalan Ahmadiyah dapat selesai dengan tuntas dan menutup pintu terjadinya bentrokan,” pungkasnya. Ia juga menjelaskan jika konflik yang terjadi belakangan ini karena lambannya presiden SBY mengambil keputusan. Hal tersebut membuat warga mengambil jalan sendiri dalam penyelesaian kasus Ahmadiyah.
FUI memilih memakai jalur DPRD untuk penyelesaian Ahmadiyah. Sebab mereka masih percaya jalur itu. Namun jika tuntutan mereka tak direspon, maka bisa dipastikan warga akan bertindak sendiri. Seperti yang diungkapkan KH Herli, perwakilan FPI tersebut menyerukan akan membakar masjid Ahmadiyah jika masalah tersebut dibiarkan berlarut-larut. “ Kalau tetap dibiarkan, kami akan bakar masjid mereka,“ tegasnya disambut takbir dari perwakilan pengunjukrasa.
Habib Reza, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Sulsel juga mengungkapkan jika ia siap mewakafkan dirinya demi pembubaran Ahmadiyah. Pasalnya Sulsel adalah daerah religius yang menghasilkan ulama besar seperti Syeh Yusuf. “ Sebelum kekuatan umat bergerak, kami minta Ahmadiyah segera dibubarkan,” tegasnya.
Beberap hari sebelumnya, FUI mengadakan rapat yang diikuti 58 orang dari 18 organisasi islam. berdasarkan pertemuan yang diikuti 58 orang dari 18 organisasi Islam di Sulsel mendesak agar pemerintah pusat mengeluarkan kepres dan pemerintah daerah mengeluarkan perda pembubaran Ahmadiyah.
Hoist Bahtiar, anggota DPRD Sulsel yang menerima aspirasi FUI mengatakan pihaknya siap menyampaikan aspirasi umat kepada pimpinan DPRD dan gubernur. Sementara itu, Amir Uskara, Ketua Umum PPP mengaku akan mendorong gubernur mengeluarkan peraturan gubernur untuk organisasi terlarang seperti Ahmadiyah.
Sebanyak 18 organisasi Islam yang tergabung dalam FUI adalah, Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Darul Da'wah Al Islami (DDI) AD, Hidayatullah, Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Wahdah Islamiyah, DDII, PMS, PUI, PII, IMM, BKMT, Majelis Mujahidin dan FPPU.




















